Taeyang’s Interview with GQ Korea July 2014 Issue

TO ME


Taeyang sudah merilis album barunya “RISE”. Lagu utamanya “Eyes, Nose, Lips” tidak hanya sudah mempertahankan posisi puncak di chart musik Korea Selatan untuk waktu yang lama. Lagu itu juga memasuki chart international iTunes. Di Jepang, ia akan segera memulai tur di berbagai kota. Sebagai seorang artis solo, ia sedang mengalami apa yang disebut sebagai kesuksesan, lebih dari sebelumnya. Begitupun Taeyang berujar, “Tidak banyak yang ingin kukatakan. Jika boleh, aku bahkan tidak ingin melakukan wawancara saat ini.”

Apakah kamu ingat SMS kita di pagi dirilisnya album ini secara online?
Ya. “Begini caramu melakukannya? Selamat.”
Dan balasanmu untuk SMS itu?
(tertawa) “Aku tidak melakukannya seperti ini. Tapi, semua menjadi seperti ini,” kataku.

Apa kita mulai dari sana saja?
Setelah “Solar”, aku tidak banyak berpikir akan apa yang akan kulakukan sepanjang yang berhubungan dengan album selanjutnya. Aku hanya banyak pergi jalan-jalan. Mengenai album selanjutnya, aku sadar aku hanya akan melakukan apapun yang kuinginkan. Musik yang kusukai saat itu sangatlah gelap, musik R&B underground yang dingin, dan ketika aku mencoba membuat musik seperti itu, aku jadi beradu kepala sedikit dengan company.
Kamu tidak berpikir itu akan terjadi?
Pada saat itu, aku tidak tahu kenapa aku berpikir seperti ini, tapi aku pikir akuk akan bisa melakukan apapun yang ingin kulakukan untuk album baruku. Tidak akan ada yang peduli…
Lalu, kamu mengetahui kalau apa yang diharapkan YG tidak akan sampai ke album Taeyang?
Benar. Sudah sampai seperti itu. Dan, aku rasa aku sudah melewati batas.
Ketika kamu menyebut underground R&B, maksudmu artis seperti The Weeknd?
Iya. Saat itu, aku merasa musiknya sangat fresh, dan aku rasa itu adalah arah (musik)ku. Selama ini aku sudah berada di R&B, tapi dalam lima tahun terakhir, musik R&B sudah menjadi agak ambigu. Lagu bermelodi, bertempo sedang sudah mencapai puncaknya. Lagu seperti itu sudah kehilangan percikannya, bahkan bagiku. Jadi, aku ingin menjadi yang pertama di Korea untuk merilis musik seperti ini. (tertawa)
Pada dasarnya, kamu ingin merilisnya sebelum album “Channel Orange” Frank Ocean dirilis.
Ya, benar. (tertawa)
Tapi, company, atau lebih spesifiknya, Yang Hyun Suk, berpikir berbeda.
Keinginan company adalah agar musikku menarik bagi lebih banyak orang. Pada awalnya, sulit bagiku untuk menerima hal itu. Tapi, aku sadar kalau aku masih tetap keras kepala, albumnya tidak akan pernah dirilis. Dan aku berpikir… kekeras-kepalaanku, kecenderunganku hanya akan semakin lebih kuat seiring berjalannya waktu. Hal-hal yang tidak ingin kulakukan, aku akan sedikit demi sedikit semakin tidak mau melakukannya. Jika sampai seperti itu, maka aku harus mencoba menerima semuanya ketika aku masih bisa sedikit berpandangan terbuka (open-minded). Dan, aku merubah caraku membuat album ini. Aku berpikir, selagi aku membuat setiap lagu itu, aku meminjamkan satu telingaku untuk mendengar apa yang ingin disampaikan banyak orang.
Ada image kuat pada YG, yaitu dibandingkan dengan company lain, artis-artisnya tidak dikendalikan dan diperbolehkan untuk mengekspresikan diri mereka dengan bebas.
(tertawa) Aku rasa terjadi kesalahpahaman. Tentu ada perbedaan dari apa yang orang lihat dari luar ke dalam. Pada akhirnya, tempat ini pun berurusan dengan music mainstream dan publik secara umum. Sebagai perbandingan, aku adalah penjudi, tapi aku bukanlah yang menentukan taruhan. Aku yang menjalankan langkahnya, tapi company yang melihat langkah-langkah itu dan membuat taruhannya. Seiring berkembangnya company, warna musiknya pun menjadi bervariasi. Terkadang, masih sulit dipercaya kalau grup seperti Akdong Musician masuk ke YG. Saat albumnya sudah dirilis, pemikiran yang datang adalah, mungkin metode ini cocok untukku. Mungkin akan ada perbedaan dalam tingkat kepuasanku, tapi aku tidak melakukan hal yang tidak ingin kulakukan. Bagaimana menurutmu?
Aku rasa bisa seperti itu dengan musik kebanyakan, tapi sebuah albumlah yang mengungkapkan hal-hal baik semakin album itu didengar. Ketika aku menonton pertandingan pertunjukkan Yuna Kim berkali-kali, aku mulai melihat sedikit gerakan, perbedaan kecil yang tidak kusadari sebelumnya. Kedua hal ini sama. Aku menemukan momen-momen ini yang menunjukkan padaku bahwa kamu benar-benar menaruh banyak perhatian pada album ini. Bahwa kamu tidak hanya menguas semua hal. Pengucapan yang baik. Pemilihan kata yang menarik.
Mendengarmu berkata begitu membuatku merasa kalau hal-hal yang aku perhatikan itu ternyata terekspresikan dengan baik.

Sudahkah kamu mendengarkan albumnya sejak dirilis?
Aku rasa aku masih butuh waktu sebelumnya aku bisa mendengarkannya dengan hati yang dingin (secara objektif). Entah kita akan punya waktu untuk membicarakannya ketika masa itu datang.
Kamu tetap bisa membicarakannya tanpa harus berhati dingin.
Sejauh ini, aku hanya… Untuk saat ini, aku hanya ingin membiarkan albumnya begitu saja. Aku hanya ingin mendengar apa yang ingin disampaikan orang-orang. Tidak banyak yang ingin kukatakan. Jika boleh, aku bahkan tidak ingin melakukan wawancara saat ini.
Ya Tuhan… Lalu, bukankah ada berbagai cara untuk merilis musik yang pada awalnya ingin kamu lakukan?
Sejujurnya, aku sudah memikirkan hal itu, tapi itu akan menjadi jalan terakhir. “Baiklah, aku akan merilisnya sendiri kalau begitu” bukanlah jalan yang ingin kutempuh. Saat mereka sudah mengakuinya, atau ketika aku sudah meyakinkan mereka, aku rasa itu adalah saat (musik itu) bisa dirilis sebagai sebuah album.
Semua lagu solomu mendapatkan sambutan terbaik sampai saat ini. Apa yang terjadi dengan nuansa wawancara ini sekarang?
Iya, kan? (tertawa) Karena itulah aku tidak ingin berbicara banyak, tapi aku malah mengungkapkan semuanya. (tertawa)
Lagu apa yang pertama kali dibuat?
“Intro (RISE)”. Saat kami pertama kali membuatnya, aku berpikir, this is it. Setelah aku mendengarkannya, aku bisa membayangkan struktur albumnya, bahkan sampai packaging-nya.
Lagu itu menarikku. Suaranya luar biasa, dan rasanya ada mimpi yang besar, yang bergerak melalui ruang yang luas yang kusukai. Dan ungkapan, “Put your hands in the air” – itu menyampaikan rasa ingin menjelajah. Tapi, ketika intro-nya berakhir, langsung diikuti oleh “Eyes, Nose, Lips” dan “1AM”. Rasanya perjalanan itu berakhir begitu saja, dan kita pun tiba-tiba sudah berada di daerah Hapjeongdong ini.
Benar. Dalam album ini, impian dan kenyataan hadir berdampingan sepert itu. (tertawa)
Kamu dan Teddy menulis lirik “Eyes, Nose, Lips” bersama, bukan?
Karena albumnya terus-menerus dikesampingkan dan diundur, Teddy-hyung dan aku jadi sering berbincang. Kesimpulan kami adalah untuk membuat lagu yang membuat orang berkata, “Oh, dia bernyanyi dengan sangat baik.” Oke, mari membuat lagu cinta. Selama empat tahun terakhir, aku pernah mencintai, dan aku pernah berpisah. Dan semua hal yang kucatat dalam buku tulisnya menjadi lagu ini. Ini hanyalah kisahku.
Kamu menyanyikan lagunya dengan indah saat pertama kali comeback di Inkigayo.
Benarkah?
Kamu tidak tahu itu? Karena kamu selalu menekankan performance, aku pikir suaramu dan nyanyianmu, sedikit banyak, hanyalah sesuatu yang dinikmati oleh orang-orang yang mencari-cari musikmu. Tapi, dengan lagu ini, kamu menyanyikannya. Rasanya bahkan tidak ada chorus.
Ya, aku harus begitu kali ini. Sejujurnya, ketika aku tampil, aku tidak ada perasaan untuk harus menyanyikan semuanya dengan baik. Tapi, aku mencobanya karena orang-orang berkata, “Kenapa ia bernyanyi sembarangan?” Jadi, ada sedikit pikiran, “Oke, sekarang aku hanya akan fokus pada bernyanyi. Mau bilang apa?” (tertawa)
Aku bisa merasakan kalau kamu menyanyikannya sepenuh hati. Mungkin aku tidak bisa mengutarakannya dengan jelas seperti seorang juri audisi, tapi ini adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan. Sebagian dari diriku berpikir, “Cowo ini bernyanyi tentang patah hati, lalu apa hubungannya dengan semua anting itu? Topi yang miring itu? Apakah ia diputuskan karena itu?”
Haha. Pengalamanku mengajarkan kalau ketika kita putus, kita jadi sangat memperhatikan penampilan. Saat semuanya berjalan lancar, kita akan pergi kemana saja mengenakan apa saja, tapi ketika putus, kita jadi peduli. Itu benar-benar terjadi. Entah karena ingin memperbaiki hubungan itu, atau karena tidak kuat melihat diri sendiri hancur, tapi benar-benar (jadi peduli pada penampilan).
Lalu, saat kamu pergi ke Paris Fashion Week dan berpakaian seperti burung merak itu adalah saat (putus)…?
(tertawa) Jika kita membicarakan Paris Fashion Week, sangat menyenangkan menonton semua show itu. Tapi, sepanjang waktu itu, aku tidak nyaman dengan penampilan yang kalau aku berada di sana hanya untuk dilihat, seorang selebriti yang ingin difoto. Jika kita diundang ke sebuah show, mengenakan pakaian (perancang)nya itu menunjukkan kesopanan dan mencoba untuk tampil keren… Jujur saja, pertama kalinya aku pergi, itu adalah sebuah pelarian, dalam beberapa hal. Aku sangat stres tentang albumnya dan terjebak, tidak ada perkembangan. Jadi, aku pergi untuk menyegarkan pikiran dan merubah kebiasaan lama. Tapi, kedua kalinya aku pergi, saat itu aku sadar. Sadar tentang apa ini. Aku rasa orang-orang tidak akan melihatku (seperti itu) lagi.
“Eyes, Nose, Lips” diikuti oleh “1AM”. Tapi, kenapa pukul 1?
Sebenarnya, bagiku, itu lebih ke jam 4 atau 5 subuh, tapi aku rasa pukul 1 akan lebih masuk akan bagi kebanyakan orang. Ketika kita pulang lebih larut dari biasanya. Kita menaiki bus terakhir, dan sedikit mabuk atau pikiran baru mulai berpikir jernih.
Aku rasa liriknya memang begitu. Ketika lirik ditulis berdasarkan pikiran atau pengalaman seseorang, kita bisa lebih terhubung dengannya. Kedua lagu tentang cinta ini mengawali albummu. Apakah posisinya berada di awal hanya karena mereka adalah lagu utama?
Pada dasarnya iya. Karena urutan lagu juga mempengaruhi penjualan lagu. Pada awalnya ideku adalah untuk menempatkan “Love You to Death” setelah “Intro (RISE)”, tapi untuk memulai albumnya dengan lagu yang hampir tidak masuk ke dalam album itu agak… Pada akhirnya, “Intro (RISE)” dan “Love You to Death”, dua lagu yang paling mendekati tipe musik yang sejak awal ingin kubuat, menjadi pembuka dan penutup albumku.
Setelah kedua lagu tadi, ada “Stay With Me”, “Beautiful (Body)”, dan “Ringa Linga” – kumpulang lagu bertempo cepat dan club feel. Menurutku, “Stay With Me” adalah kolaborasi terbaikmu dengan G-Dragon sampai saat ini. Seperti sebuah foto dimana kalian berdua terlihat bagus.
Ya, aku juga berpikir seperti itu. Lagu itu muncul karena, ya, album yang pada awalnya ingin kubuat tidak ada featuring. Dan itu, menurut sudut pandang company, adalah sebuah kekhawatiran lain. (tertawa) Aku pun mencoba memikirkannya. Aku akan sangat senang menyanyikan “Throw Away” dengan senior Cho Yong Pil, jadi aku mencoba sebisaku, tapi kami sedang terdesak pada saat itu hingga tidak bisa diwujudkan. Sedikit banyak aku bersyukur ia menolaknya karena aku mengerti kalau ia bukanlah orang yang melakukan apapun begitu saja. Aku juga tidak ingin terburu-buru. Bagaimanapun, aku perlu memasukkan lagu featurin(di albumku), dan aku paling banyak menghabiskan waktu bersama Ji Yong, baik di luar maupun di dalam studio. Ji Yong itu sangat mahir. Ia adalah teman terdekatku, tapi (ini mengejutkan saya) bagaimana ia bisa menangkap semua hal dan memprosesnya dalam caranya sendiri. Aku memperhatikannya, dan itu mempengaruhiku. Ia mengikuti arus tapi tetap menjaga warnanya sendiri. Dengan Ji Yong, aku benar-benar berbagi pikiranku yang terdalam. Bagaimanapun aku tidak bisa berkeluh-kesah dengan para hyung komposer. Jika sesuatu tidak berjalan dengan baik, sebagai artisnya, aku berada di posisi dimana harus menghibur dan berkata, “Mari kita coba lagi.” Tapi, pada Ji Yong, aku bisa bertindak sesuai umurkku. Aku bisa mengatakan apapun yang ada dalam pikiranku, dan ia akan mendengarkan. Dan kita juga berbicara tentang wanita, pacaran, dan hal-hal lain. “Stay With Me” muncul agak terlambat dalam proses pembuatan album ini. Aku juga menyukainya.
Tapi, “Ringa Linga” yang dirilis tahun lalu sedikit berbeda. Mendengarkanmu, Taeyang, menyanyi, “Ladies cry over my body” membuatku, maaf kata, sedikit cekikikan karena malu. Di sisi lain, dalam style, koreografi dan penampilannya, ini yang paling hebat.
Benar. Aku setuju, secara lirik, kata-kata, dan isinya bukanlah sesuatu yang berhubungan denganku. Tapi, aku merasa kalau lagu itu penting, jika bicara soal timing. Mengenai timing, itu tidaklah buruk. Saat itu aku akan pergi ke Paris Fashion Show dan yang lainnya (tertawa), jadi rasanya bukan ide yang buruk untuk menyanyikan lagu club trendy ini. Liriknya sedikit berbeda dengan gayaku, tapi aku percaya diri dalam mengekspresikannya melalui performance.
Sekarang, kita lanjut ke bagian akhir album. “This Ain’t It” adalah lagu yang paling tidak disangka dalam album ini dan, secara pribadi, ini lagu yang paling sering kudengar.
Aku juga tidak menyangkanya. Waktu itu aku mendengarnya secara kebetulan dan aku menyukainya, tapi aku tidak terpikir untuk menyanyikannya. Ini adalah lagu yang CEO YG bilang akan terdengar fresh jika aku menyanyikannya, jadi aku mencobanya.
Ini genre yang berbeda dari yang pernah kamu bawakan, dan aku mendapati caramu mengucapkannya, caramu menyusun kata-kata dengan ekpresif, ini refreshing. Sebagai yang menyanyikannya, apa yang kamu rasakan?
Tidak biasa. Karena tidak ada ritme (untukku berpegang), kita harus mengandalkan perasaan sepenuhnya untuk menuntun kita. Pada awalnya aku tersesat. Aku mencoba menyanyikannya dengan caraku. Kemudian aku mencoba menyanyikannya seolah-olah aku sedang menangis. Tapi, perasaan itu sulit dimengerti. Setelah sekitar lima kali menyanyikannya, aku baru menemukan cara (menyanyikan)nya.
Pengucapanmu sangat menarik bagiku. Kamu mengucapkan (huruf vokal Korea) “eo” menjadi di antara “eu” dan “eo”, menggunakan dialek daerah Kyeonggi, Seoul.
Itu… Seperti yang kubilang, aku menyanyikannya dengan caraku saja pada awalnya. Tapi, aku rasa itu terlalu ekstrim. Orang-orang yang mendengarkannya pada saat itu seperti, “Kenapa kamu menyanyikannya dengan aksen yang begitu kuat?” Aku tidak pernah mendengar orang mengatakan hal itu sebelumnya. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi itu datang begitu saja padaku. Bukan disengaja. Aku tidak mencoba menyanyikannya seperti itu dengan sengaja. Akan terasa dipaksakan. Aku hanya menyadarinya setelah rekaman. “Kenapa aku mengucapkannya seperti ini?”
Sebuah cerita lucu yang hanya bisa diketahui oleh penyanyi dari Euijeongbu.
(tertawa) Pengucapan sangat penting. Bukannya harus selalu berbicara dengan tepat, tapi lebih seperti bisa mengerti apa yang kita ekspresikan secara naluriah. “This Ain’t It” juga, dalam banyak hal, tidak diduga-duga olehku.
“This Ain’t It” adalah lagu pertamamu yang akan aku dengarkan untuk menyendirikan aku yang berjalan pulang. Aku berpikir ini akan menjadi sesuatu yang cukup berarti untuk penyanyinya, Taeyang.
Sesuatu yang juga sudah kupikirkan. Jadi, ketika aku mendengarnya darimu, aku merasa senang. 
Kamu menyebutkan featuring tadi, tapi lagu selanjutnya membuatku memikirkan Cho Yong Pil. 
Aku ingat saat mendengar melodi lagu ini pertama kali. Aku mendengarnya ketika sedang menuruni tangga dari lantai 3 ke lantai 2, dan aku benar-benar menyukainya. Aku baru sadar kalau lagu ini mengingatkanku pada lagu senior Cho Yong Pil setelah selesai rekaman. “Oh, ternyata benar mirip.” Tapi, aku tidak pernah menggunakannya sebagai motif atau apapun. Setelah itu, aku bahkan terpikir untuk merubah aransemennya, tapi sepertinya hanya aku yang berpikir seperti itu. (tertawa)
Lalu, lagu terakhir “Love You to Death”. Tepat stelah album dirilis, kamu mengatakan lagu ini adalah lagu favoritmu dalam konferensi pers. Dan kalau lagu ini hampir tidak masuk ke dalam album. Aku rasa ini bisa memberikan dua interpretasi. Bahwa karena lagu ini adalah lagu favoritmu dari musik yang pada awalnya ingin kamu lakukan. Atau, bahwa ini adalah lagu yang entah bagaimana paling tidak cocok dengan album ini.
Benar kalau ini adalah lagu yang sangat kusukai. Tapi sebenarnya ada satu lagu lain lagi yang lebih kusukai dari hasil kerjaku dengan Happy Perez. Alasanku memilih “Love You to Death” adalah karena itu yang paling cocok dengan albumnya. Lebih dari apapun, aku menyukai liriknya. Liriknya penuh gairah (passionate). Kamu sedang mengatakan bahwa kamu rela mati demi wanita ini. Suaranya juga sangat maskulin.
Apakah kamu penuh gairah (passionate)?
Ya.
Apakah itu hal yang kamu sadari setelah merasakan cinta?
Aku rasa begitu. Ketika kamu menyukai seseorang, kamu pasti menjadi passionate. Setelah tahu aku begitu, aku rasa aku harus mengontrol diriku sebelumnya agar aku tidak jatuh terlalu dalam.
Jika memang semudah itu, kenapa ada begitu banyak lagu cinta di dunia ini?
Benar sekali. Aku bahkan tidak menyadarinya – terjadi begitu saja…
Suatu waktu, aku sedang mendengarkan iTunes, dan, secara ajaib, lagu “Wicked Games” dari The Weeknd muncul setelah “Love You to Death”. Rasanya membingungkan tapi menyenangkan, seperti sebuah film yang sudah berakhir dan dimulai lagi dengan cara yang fresh dan aneh.
Aku pun berpikir… aku ingin mempersembahkan album ini dalam cara yang berbeda.
Kamu menjadi cukup cerdik sekarang.
Tahulah. Sebuah album hanya keluar ketika sudah dikeluarkan. Sebuah konser hanya terjadi ketika diselenggarakan. (tertawa)
Kamu mengadakan tur di Jepang, bukan?
Aku menginginkannya. Motivasi terbesarku untuk merilis sebuah album adalah untuk tampil di atas panggung. Karena albumnya sudah keluar, tahap selanjutnya (adalah tampil). Aku pikir, setelah tur di Jepang, aku akan bisa mempertunjukkan konser di Korea.
Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?
Sulit diungkapkan. Baik itu melalui album ini, atau melalui setiap penampilan, atau bahkan melalui kesalahpahaman dan meluruskan kesalahpahaman itu, aku berharap semuanya adalah proses menuju diriku sebagai seorang artis. Aku rasa, kemungkinan, aku menemukan banyak sisi diriku melalui album ini. Bisa disebut kepercayaan diri. Mungkin itu image yang kubuat sendiri, tapi aku tida ingin membuat musi saat merasa terperangkap oleh perhatian orang-orang yang hanya mencari image itu dalam diriku. Aku ingin menghadapi semua waktu dan kesempatan yang datang padaku. Apapun image-ku, apapun reaksinya, aku rasa aku harus terus maju. Baik melalui perjuangan batin atau dengan bepergian, pada akhirnya, penempatan dan warnaku sebagai seorang musisi akan tumbuh semakin kuat. Apapun lagunya, aku ingin mengajak dengan musik dan menonjolkanku di dalamnya.
“Dibandingkan semua orang, lebih pada diriku. Aku menyanyi pada diriku,” adalah kesan yang kudapat.
Itu benar.
“Lebih pada diriku daripada kalian.”
Betul.
Apakah kamu menyetujui Taeyang yang seorang penyanyi?
Terus terang saja, sebelumnya, seperti saat “Where U At” misalnya, aku pikir aku sangat puas dengan pemikiran kalau aku melakukan apa yang ingin kulakukan. Tapi, jika ditanya sekarang apakah saat itu aku adalah seorang penyanyi, aku tidak yakin. Tapi, aku bisa mengatakan kalau aku menyukai diriku sebagai seorang penyanyi sekarang. Dan, aku rasa aku akan lebih menyukainya lagi pada masa yang akan datang.
Aku rasa aku harus bersorak, “Fighting!”
(tertawa) Sebelum aku melihat diriku sendiri sebagai seorang penyanyi, aku melihat dan mepelajari orang-orang yang aku rasa adalah penyanyi sejati. Senior Cho Yong Pil salah satunya. Dan juga senior Kim Choo Ja, aku mendengarkan albumnya. Dan, aku merasa seperti mulai mengerti hal-hal yang tidak kumengerti sebelumnya, dan mulai mengikuti jejak mereka. Jika, dulu, aku mungkin berpikir, “Keren sekali. Aku ingin menjadi seperti itu,” sekarang aku mendapati sisi-sisi itu ada dalam diriku secara natural. Dan itu membuatku berpikir kalau aku berada dalam jalan yang benar sebagai seorang penyanyi.
Album Kim Choo Ja dirilis pada hari yang sama dengan albummu. Sebagai pendengar, aku rasa itu kebetulan yang lucu.
Aku tidak mengenal senior Kim Choo Ja sebelumnya. Tapi, mendengarkan albumnya, aku kagum akan caranya berekspresi. Ada ternyata penyanyi yang bisa mengekspresikan dirinya seperti ini. Itu membuatku benar-benar merasakan apa rasanya menyanyikan lagu dengan caramu sendiri. Kenapa itu penting dan sangat sulit. Impianku adalah untuk membuat musik dan penampilan yang mengajak semua orang tanpa ragu. Aku yakin akan ada beberapa halangan untuk mencapai itu, tapi keren rasanya tidak memiliki rasa takut. Sungguh, seorang penyanyi hanya perlu menjadi keren. Sepertinya artis-artis seperti itu kurang mendapat perhatian publik. Tidak banyak yang memperhatikan. Dan karena itu, standar pun turun.
Yang bisa kamu lakukan adalah terus maju, terus mengikuti jalanmu. Kamu beruntung dan diberkati hingga bisa menjalani jalan itu dengan orang-orang yang membuat jejaknya itu dan dengan orang-orang keren seusiamu.
Iya.
Sebelumnya, bukankah kamu menyatakan bahwa kamu tidak ada yang ingin disampaikan?
Tidak.
Bagaimana kalau kita membicarakan kebun dan interior? Kamu sangat asyik dengan itu belakangan ini.
Ya, aku akan pindah ke sebuah rumah yang ada pekarangan, jadi aku mulai tertarik dengan hal-hal ini. Ada sebuah meja yang sangat ingin kupunya, tapi itu sangat mahal sampai aku berpikir ulang untuk membeli dalam kondisi baru. Tapi, aku dengar bisa dibeli lebih murah jika mencari yang sudah lama, jadi aku sedang rajin berada di internet belakangan ini.
Wah, ada pohon bonsai di sini.
Itu pohon ceri. Entah mengapa, bunga sakura (cherry blossom) sedang menyentuh hatiku musim semi ini. Aku melihat daun bunganya berjatuhan di jalanan dan berpikir, “Mereka mekar setahun sekali dan menghilang dengan indahnya.” Aku belum pernah merasa begitu sebelumnya. Jadi, aku membeli bonsai ini, dan berencana untuk menanam pohon ceri di pekarangan rumah baruku.

Editor: Jang Woo Cheol


Online edition of the article + pictures: 1 | 2
Watch the video from GQ as well!


 

English translation by Silly for AlwaysTaeyang
Indonesian translation by TaeyangINA

About TaeyangINA

Love & support Taeyang always
This entry was posted in Interview, PHOTO and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s